Tinggalkan komentar

Karena Bu Risma

Islam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

Lihat pos aslinya 4.589 kata lagi

Tinggalkan komentar

Kolong Jembatan

Bismillah…….


Kolong Jembatan

“ Dasarrrr Penghianattttttttttttt ! “ teriak Sebastian, dengan raut wajah yang merah ia melemparkan gelas yang ada di tangannya. Pikiran yang kacau karena di tagih hutang oleh dua orang rentenir, yang mengunjunginya di lapak rokok miliknya. Yang berada di bawah jalan tol, kolong jembatan tepatnya Kampung Melayu.

Kejadian yang membuatku merinding sekaligus takut, seperti inikah tantangan hidup dikota Jakarta.  Apakah tidak takut akan karma yang menimpa kita, bila sudah tidak ada lagi hati terhadap sesama.

“ Kenape lo, Bang ? siapa yang penghianat bukanye,  Abang juga penghianat ? “

 tanya  Adi, teman kos sekamarnya yang sudah tak heran dengan Sebastian, yang terkadang bisa menjadi ular berkepala dua bila ingin meminjam uang padanya.

“ Gak nape nape, dari mane lu baru nongol jam segini ? “

 Sebastian yang pura pura tak terjadi apa apa.

“Dari rumah, Koh Ahong, tadi mbantuin belanja tokonye, gue mau mandi dulu Bang gatel semua nih badan “

 Adi, mengalungkan handuk kelehernya bergegas ke kamar mandi yang sangat kecil ukurannya.

Kampung melayu yang sering kudengar tidak seperti yang ku lihat, atau aku yang belum biasa dengan keadaan di kolong jembatan itu yang sangat kasar bahasanya untuk anak anak kecil. Belum lagi orang tua yang semena mena dengan anak anak mereka, apakah mereka tidak takut akan azab Allah. Yang berlaku kasar terhadap sesama. Bukan kehidupan ini yang kejam tetapi usaha dan keberuntungan kita.

Ataukah ini semua nafsu manusia yang di ikuti iblis iblis sehingga tidak ada rasa takut dengan Azab Allah. Sungguh kasian mereka yang harus tinggal dan mengais di kolong jembatan belum lagi mereka harus berlari lari bila ada pembersihan.

Sampai kapan seperti ini ? Sampai kapan rakyat kecil dengan kehidupan di kolong jembatan yang penuh dengan kekejaman zaman. Ataukah pemerintahIndonesiayang seperti ular berkepala dua, bila ada maunya rakyat di janjikan ini itu tapi mana kenyataannya memberikan yel yel rakyat kecil yang jadi korban setelah yel yel mereka terwujud.

Geram rasanya tapi tidak bisa seperti Sebastian yang melayangkan gelas atau botol minumannya ketika penagih hutang itu datang. Ia bisa beruba menjadi iblis yang luar biasa kejamnya walaupun aku tak tahu bagaiman iblis marah.

“ Woi, mane utang lo Bas ? janji janji tinggal janji doang jangan jadi uler kepale due lo ye ! “ Ucok melayangkan tinjuannya ke wajah Sebastian

Duel terjadi tanpa ada yang berani melerai mereka, ataupun Adi teman sekamarnya merasa takut dengan Ucok bukan Adi yang meminjam uang masa Adi yang mau kena azabnya alias pukulan gratis dari Ucok.

Akhirnya Sebastian hanya bisa berjanji lagi dengan wajah penuh memar dan menyumpah dengan serapahnya “ dasarrr lo rentenir keparat, tunggu karma buat lo “

Dengan sempoyongan menuju kamar kostnya. Itulah kehidupan keras di kolong jembatan siapa kuat dia yang hebat dan dapat bertahan.

By : Sho An