Tinggalkan komentar

Kolong Jembatan

Bismillah…….


Kolong Jembatan

“ Dasarrrr Penghianattttttttttttt ! “ teriak Sebastian, dengan raut wajah yang merah ia melemparkan gelas yang ada di tangannya. Pikiran yang kacau karena di tagih hutang oleh dua orang rentenir, yang mengunjunginya di lapak rokok miliknya. Yang berada di bawah jalan tol, kolong jembatan tepatnya Kampung Melayu.

Kejadian yang membuatku merinding sekaligus takut, seperti inikah tantangan hidup dikota Jakarta.  Apakah tidak takut akan karma yang menimpa kita, bila sudah tidak ada lagi hati terhadap sesama.

“ Kenape lo, Bang ? siapa yang penghianat bukanye,  Abang juga penghianat ? “

 tanya  Adi, teman kos sekamarnya yang sudah tak heran dengan Sebastian, yang terkadang bisa menjadi ular berkepala dua bila ingin meminjam uang padanya.

“ Gak nape nape, dari mane lu baru nongol jam segini ? “

 Sebastian yang pura pura tak terjadi apa apa.

“Dari rumah, Koh Ahong, tadi mbantuin belanja tokonye, gue mau mandi dulu Bang gatel semua nih badan “

 Adi, mengalungkan handuk kelehernya bergegas ke kamar mandi yang sangat kecil ukurannya.

Kampung melayu yang sering kudengar tidak seperti yang ku lihat, atau aku yang belum biasa dengan keadaan di kolong jembatan itu yang sangat kasar bahasanya untuk anak anak kecil. Belum lagi orang tua yang semena mena dengan anak anak mereka, apakah mereka tidak takut akan azab Allah. Yang berlaku kasar terhadap sesama. Bukan kehidupan ini yang kejam tetapi usaha dan keberuntungan kita.

Ataukah ini semua nafsu manusia yang di ikuti iblis iblis sehingga tidak ada rasa takut dengan Azab Allah. Sungguh kasian mereka yang harus tinggal dan mengais di kolong jembatan belum lagi mereka harus berlari lari bila ada pembersihan.

Sampai kapan seperti ini ? Sampai kapan rakyat kecil dengan kehidupan di kolong jembatan yang penuh dengan kekejaman zaman. Ataukah pemerintahIndonesiayang seperti ular berkepala dua, bila ada maunya rakyat di janjikan ini itu tapi mana kenyataannya memberikan yel yel rakyat kecil yang jadi korban setelah yel yel mereka terwujud.

Geram rasanya tapi tidak bisa seperti Sebastian yang melayangkan gelas atau botol minumannya ketika penagih hutang itu datang. Ia bisa beruba menjadi iblis yang luar biasa kejamnya walaupun aku tak tahu bagaiman iblis marah.

“ Woi, mane utang lo Bas ? janji janji tinggal janji doang jangan jadi uler kepale due lo ye ! “ Ucok melayangkan tinjuannya ke wajah Sebastian

Duel terjadi tanpa ada yang berani melerai mereka, ataupun Adi teman sekamarnya merasa takut dengan Ucok bukan Adi yang meminjam uang masa Adi yang mau kena azabnya alias pukulan gratis dari Ucok.

Akhirnya Sebastian hanya bisa berjanji lagi dengan wajah penuh memar dan menyumpah dengan serapahnya “ dasarrr lo rentenir keparat, tunggu karma buat lo “

Dengan sempoyongan menuju kamar kostnya. Itulah kehidupan keras di kolong jembatan siapa kuat dia yang hebat dan dapat bertahan.

By : Sho An


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s