Tinggalkan komentar

Cerpen

Bismillahirrohmaanirrohiim….

Cermin

Sudah berpuluh tahun, aku berkerja dan semua rezeki dari Nya menjadi cobaan untukku. Terutama untuk belahan jiwaku. Aku sangat berharap dan terus berharap, bahwa kepemimpinanku harus berhasil baik di perusahaan ataupun di keluargaku.

Siang tak pernah ku duga, akhirnya Direktur memanggilku untuk keruangannya.
“Tahram, bisa keruanganku! Ada yang ingin kusampaikan” kata Dimas Mangku Bumi, Direktur yang bijksana dan sholeh.

“Baik, Pak” Tahram segera membuntut dan dua menit kemudian sudah ada di ruangan Direkturnya.

“Sebelumnya, saya ucapkan selamat untuk prestasi kerjamu, dan menurut peraturan perusahaan Saudara Tahram akan dipindah tugaskan kerja keluar negeri masa periode lima tahun” Ulas Dimas

“Alhamdulillah, atas apresiasi persahaan yang mempercayakan saya, Pak” hati Tahram berdebar antara senang dan sedih.

“Baiklah, saya akan memberikan semua surat surat izin tinggal, pasport dan visa kerja Saudara Tahram dua minggu lagi. Kalau ada yang ingin di tanyakan hubungi saya dan sekretaris saya, Aqu Aini”

“Terima kasih, Pak. Insya Allah dan saya pamit kembali kerja dulu.” Izin Tahram

“Ya, silahkan”

Dalam hatiku entah apa yang harus kuucapkan pertama kali, Alhamdulillah atau Astagfirullah. Hatiku antara senang dan sedih.

Aku senang karena rizkinNya dan prestasi kerjaku, walau aku belum tahu negara mana aku ditugaskan. Dan sedihnya, karena…..

                                                                        Top of Form

Karena, istriku belum berjilbab. Aku malu semua saudara iparku sudah berjilbab.

“Assalamu’alaikum, Rusnia….masak apa kok wanginya harum amat?”

“wa’alaikumsalam, aku masak lodeh kesukaanmu dan anak anak. Tumben, pulangnya cepet?” Rusnia kembali bertanya.

“Ya, ada kabar baik untuk kita semua” sambil melepas sepatu dan meletakkan tasnya Tahram berniat memberitahukan berita tentang kepindahan kerjanya.

“Bersih bersih dulu, Ram. Nanti selesai jama’ah ashar beritahu beritanya…ya!” kata Rusnia, istri yang sangat dicintainya.

Selesai Ashar …….

 

Di beranda rumah yang asri disekeliling rumah di tanami pohon mangga dan diteras di penuhi bunga melati dan airbras. Warna warna yang mencolok dan hujan rintik rintik menambah lengkap sore yang dingin karena hujan. Tetapi, keluarga yang bahagia ini selalu hangat dengan kerukunan.

“Ram, ada berita apa? Katanya ada berita baik?” Rusnia menagih kata kata Ram.

“Ya…., ada berita baik untukku berkaitan dengan prestasi kerja. Pak Dimas memindahkan aku kerja Rus.” Rusnia menatap Tahram, menangkap kegelisahan di .” Jadi, mau dimutasi?”wajahnya

 

‎”Benar, tapi aku belum tahu di mutasi kenegara mana” Tahram menerangkan
dengan gelisah dan berharap Istrinya mau menuruti kata katanya.

“Rus, kau menicntaiku? Aku mau sebelum aku pindah kerja engkau mau meninggalkan pakaian seksimu dan berjilbab!” Tahram menatap wajah Rusnia, dengan pandangan yang lekat.

“Aku belum bisa, Ram” pandangannya ditundukkan seperti memelas dan kalah oleh permintaan Tahram.

2, Minggu……

 

Senin pagi yang panas, tiga puluh empat derajat celcius. Cuaca yang membuat adrenalin menuju ke otak menjadi aktif. Persiapa n untuk mendengar keputusanPak Dimas juga sudah mantap. ” Mudah mudahan segala urusanku lancar, aamiin.”

“Papa, sudah Duha belum?, Zupi mau nebeng sampe depan Pa, sepeda Zupi bocor.” Zupi anak ke dua yang baru berusia enam tahun.

“sudah, emm. . . Kenapa gak di tambal sepedanya?, kalo gitu bareng juga dengan Kak Aan ya?” Keluarga yang sakinah itu selalu menyempatkan berkomunikasi untuk menambah mawadah dan warahmah. Semua itu tergantung dengan pemimpinnya.

Mobil Honda Genio terus berjalan menuju sekolah SMP 76 Jakarta, dan lima belas menit kemudian sampai di sebuah perusahaan jasa swasta kantor Tahram.

“Assalamu’laikum Pak”

“Wa’alaikumsalam, warakhmatullahi,wabarkatuh….Ram, sudah siap mendengar berita selanjutnya? Negeri yang kau tuju nanti adalah Hongkong Ram, karena perusahaan ini salah satu penerima terbesar pendapatannya untuk Negara” jelas Dimas Mangku Bumi

‎”Dan, Aini akan menyiapkan semua keperluanmu dan surat surat tugasmu termasuk keluargamu Ram, karena masa kerjamu lima tahun. Mabrruk dan semoga prestasimu terus meningkat, Ram” selamat diucapkan Pimpinan yang Kharismatik yang harus kutiru tindak tanduknya.

“Terimakasih dan Insya Allah, Pak” dan pamitan keluar ruangan.

Selesai Isya…..

 

Semua sudah berkumpul diruang nonton tv, dan aku dengan hati cemas dan zikir yang mampu menguasai keadaan hatiku saat ini. Ku ambil remot tv dan kumatikan saat anak anakku dan istriku sedang menikmati hiburan dari kotak segiempat yang ajaib itu.

“Lho…Kok di matiin tvnya, Pa?” Aan protes dan cemberut, itu yang aku suka dari Aan selalu protes.

“Papa, mau ngasih kabar buat kalian” setiap jeda kalimat hanya istigfar yang kuucapkan.

“Yaa…Allah, aku belum berprestasi untuk menjadi pemimpin istriku, yang belum mau berjilbab ya….Rabb” dalam hatiku aku menjadi seorang yang kalah untuk wanita yang kucintai.

Tapi, aku akan berusaha dengan sabar tanpa berkata kasar terhadap istriku.

 

‎”Minggu depan, Papa pindah tugas kerja ke Hongkong. Kalian harus nurut ya! tiga bulan kedepan, Zupi dan Aan juga pindah sekolah” terangku

“Beres, Pa” jawab Aan dan Zupi, kompak.
”Siiiipppp, kalian memang anak anak yang baik, sekarang kalian tidur biar subuhnya gak telat!” aku menggiring anak anakku kekamar tidur.

………………………………………………………………..

“Ya,,,Allah, sampai detik kepergianku Rusnia, belum juga mau berjilbab” Hatiku terus berharap padaMu, yaa…..Rabb.

Surat tugas, pasport dan visa sudah siap, tinggal diriku dan beberapa temanku menyiapkan mental, fikiran dan do’a. Dan soal Rusnia aku fikirkan di Hongkong saja.

“Rusnia, kau hati hati menjaga diri dan anak anak ya!”

“Ya, kau juga hati hati Ram selama aku tidak ada di dekatmu!” balas Rusnia

Rusnia bagiku wanita yang cantik dan istri yang patuh terhadap suami, tidak pernah ia membantahku walau ide idenya kadang tak ku terima. Tapi, entah mengapa apa yang memberatkannya untuk berjilbab.

Tiba di Bandara Hongkong, aku tetap memohon perlindungan dan di tetapkan iman. Jangankan memikirkan ke Negara yang ekonominya menjadi pusat keuangan duni. Membayangkannyapun tidak pernah.

Gemerlap kota membuatku takjub dan merasa kecil atas kekuasaan Allah, seperti di surga mungkin, tapi baru dunianya. Semua tranportasi begitu canggih. Peraturan Negara berlambang bau hinia begitu teratur dan disiplin.

 

Tiga bulan sudah, keluargaku sudah kembali lagi berkumpul bersama.

Ingin aku mengajak Rusnia, berjalan kaki melihat Victoria Park. Dan kebetulan sekali hari ini cerah udaranya.

“Rusnia, kita jalan yuk!” Pintaku pada istriku.
“Mau, ngajak kemana, Ram?” sedikit penasaran Rusnia.
“Kita jalan aja, tapi jalan kaki” pintaku lagi
“Baiklah, aku juga ingin melihat lihat Hongkong”

Dua puluh menit kemudian aku dan Rusnia, sampai di Victoria Park. “Rus, coba kesini!” kutarik pergelangan tanganya dan kutunjukkan padanya.
“Coba lihat itu, mereka cantik ya? Dan sopan lagi dengan jilbabnya”
Yang aku tunjukkan adalah pahlawan devisa negaraku, ternyata mereka cantik cantik, lebih cantik dari istriku dan berjilbab lagi.
“Ram, iya….mereka cantik” jawabnya tanpa nada kesal ataupin marah.

………………………………………………………………..

Seperti kebiasaan di Indonesia, aku bangunka Rusnia untuk tahajud, jam dua malam.
Begitu selesai tahajut kami lanjutkan membaca Al Qur’an. Tetapi kutunggu tunggu Rusnia, tidak juga membawa Qur’annya. Akhirnya aku masuk kekamarku yang kudapati ternyata…
“Rus, kau ingin berjilbab ?” tanyaku heran, ternyata ia sedang memilih memilih jilbab dalam satu koper yang dikirim dari Indonesia dan pengirimnya adalah kakak iparku.
“Ya, Ram…aku akan menanggalkan semua pakaian seksiku. Aku ingin pakai jilbab, Ram” senyum mengembang dan rasa bercampur jadi satu.
“Alhamdulillah,,,,,, Rabb” pujiku pada Rabb.

Dan, pagi pagi Aan sudah protes

“Ma, jangan pake jilbab..! Aan kan malu sama temen temen, Ma” kata Aan

“Nggak usah malu, kamu tenang aja, Sayang” Rusnia menenangkan Aan

Saat menjemput ke sekolah, Rusnia di panggil oleh guru Aan ternyata orang tua Aan di undang pihak sekolah untuk memberikan penjelasan tentang jilbab dan agama Islam yang kami anut.

“Allah maha besar, Rusnia. Kita membawa syi’ar islam lewat jilbabmu” bisikku padanya…

“Ram, terima kasih” Rusnia tampak lebih cantik lagi setelah berjilbab.

The end

Bottom of Form

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: